7 Etos Kerja Berbasis Spiritual

January 21, 2012 by   - dibaca 1,189 kali
Leave a Comment

Jangan katakan:”Wahai Allah, masalahku sangat besar”
Tapi katakan: “Wahai masalah, Allah itu Maha Besar”

Hidup adalah permainan, tapi hidup bukan untuk main-main. Tidak ada yang sia-sia dalam hidup ini, semua selalu ada hikmahnya yang luar biasa bagi siapa pun. Dalam permainan yang “nyata” ini, setiap individu berhak memilih peran apa yang ingin dimainkannya. Lain itu, t anpa sepengetahuan Anda, Allah SWT pun telah mempersiapkan takdir terbaik untuk Anda dan hamba-hamba Allah lainnya. Allah mengetahui peran apa yang terbaik untuk setiap hamba-Nya, dan Allah pun memiliki hak agar setiap hamba-Nya mau memainkan peran itu. Adapun, mengenai sejauh mana Allah akan menggunakan “hak”-Nya, tentu saja Anda tidak bisa mengukurnya, dan tidak perlu mengukurnya.

Yang penting, tugas Anda adalah : lakukan saja yang terbaik. Lantaran syariatnya, tetap Anda lah yang MEMILIH peran yang ingin Anda mainkan. Sehingga, wajar saja apabila Allah kelak tetap meminta pertanggungjawaban kepada Anda atas segala peran yang telah Anda pilih dan mainkan tersebut.

Saudaraku, kini apa pilihan Anda? Apa peran yang ingin Anda mainkan? Ingin menjadi pribadi seperti apakah Anda? Ketahuilah, apa pun pilihan Anda, tidaklah masalah, selama Anda siap menanggung resikonya. Setiap pilihan selalu memiliki resiko, mulai dari resiko yang teringan hingga resiko yang terberat. Uniknya, para pecundang sejati ENGGAN menghadapi resiko yang berat, padahal ia ingin menjadi orang yang hebat. Ketahuilah, semakin hebat peran yang dipilihnya maka semakin berat resiko yang akan dihadapinya. Sehingga, CIRI para pecundang sejati adalah : sangat menyukai cara yang INSTANT dan Culas, dan sangat gerah dengan cara yang INTAN (butuh proses) dan Cerdas.

Para pecundang bermimpi mendapatkan ikan paus, tapi malah memancingnya di sungai, parit, ataupun selokan. Mereka masih berkhayal dapat merasakan manisnya iman, padahal sholat shubuh saja sering kesiangan. Mereka masih saja sangat mengharapkan syurga dengan instant, yaitu “ibadah seminimal mungkin – raih syurga seluas mungkin”. Padahal mereka pun memahami bahwa menuju syurga itu mesti mengamalkan paket-paket ibadah, berupa “kurikulum standar” yang sudah ditetapkan-Nya.

Ya, merekalah orang-orang yang menginginkan sukses pada “ujung”-nya saja. Padahal kesuksesan itu merupakan sebuah marhalah, atau tahapan, atau jalan, yang mana terdiri dari : awal, proses, hingga ujung. Orang-orang yang bertipe instant – bukan bertipe intan, SANGAT MENYUKAI hasil yang baik, tapi enggan melewati nya dengan proses yang layak. Merekalah tipe-tipe manusia yang menyukai “Kaya Mendadak”. Padahal, kaya mendadak bisa berakibat pada “Miskin Mendadak”, yang berefek jauh lebih menyakitkan. Bagi mereka, yang penting nilai ujiannya bagus, dan tidak penting bagaimana cara mendapatkan nilai bagus tersebut.

Mereka menghindari “proses” yang mereka anggap panjang dan melelahkan, sehingga, mereka mencari-cari jalan kreatif plus licik, yang sangat mendekati perilaku ahli neraka, dan tentu saja jauh dari kebiasaan ahli syurga. Merekalah orang-orang yang takut gagal dalam usahanya yang LURUS, sehingga mereka tidak mau mencoba menggapai impiannya dengan jalan yang benar, yakni jalan yang diridhoi Allah, Mereka lebih suka berbicara daripada bekerja, lebih suka mencuri daripada mencari, lebih suka memfitnah daripada berbenah, lebih suka mencemooh daripada memberi contoh, dan lebih suka menyontek daripada menjadi jujur intelek.

Saudaraku, ayo Buka TELINGA, b uka MATA, dan Buka HATI Anda saat ini. Ketika masalah hadir, ketika kegagalan menyapa, ketika nilai ujian buruk terukir, ketika kegundahan menerpa, dan ketika frustasi mulai mampir, maka yakinkan pada diri Anda, dengan SEYAKIN-YAKINNYA, bahwa Anda bisa melaluinya dengan selamat. Bagi Anda, JUSTRU semakin besar permasalahan Anda, maka semakin besar pula kualitas diri Anda untuk menjadi pribadi yang luar biasa, tentu saja ketika Anda MAU menghadapinya dan BISA menuntaskannya. Ingatlah “Pilihan” sudah satu paket dengan resikonya. Cita-cita besar sudah dipaketkan dengan masalah-masalah besar. Ikan Paus sudah dipaketkan dengan samudera. Pelaut ulung sudah dipaketkan dengan ganasnya samudera. Ya, pelaut ulung tak mungkin terlahir hanya dari laut yang tenang. Perlu gelombang laut yang dahsyat, yang hadir sebagai pembukti kualitas diri sang pelaut, bahwa ia memang benar-benar dilahirkan sebagai pelaut sejati.

KINI, apa pun masalah Anda, YAKINLAH bahwa setiap masalah yang hadir selalu dipaketkan dengan solusinya. Tidak mungkin Allah menzolimi hamba-hamba-Nya, tidak mungkin Allah memberikan masalah tanpa disertai solusinya. Seringkali, tugas Anda hanya lah berusaha menemukan, mana solusi tersebut. Percayalah, solusi itu ada di sekitar Anda. Buka Telinga, Mata, dan Hati Anda. Mungkin banyak alternatif solusi yang ditawarkan kepada Anda. Mintalah kepada Allah. Pilihlah yang terbaik, apa adanya, pasrah, rileks, dan bertawakallah kepada Allah SWT.

TAHUKAH ANDA, selama Anda betul-betul yakin, maka “ketaqwaan” Anda akan segera membantu Anda, sesulit apa pun kondisi Anda. Kalau hari ini ketaqwaan Anda belum bisa mengantarkan Anda kepada solusi, berarti yang masalah bukanlah “beratnya masalah” tersebut, tetapi yang seharusnya Anda lakukan adalah, tingkatkan ketaqwaan Anda. Tak perlulah menghindari masalah, sebab masalah adalah niscaya, hari-hari sulit ibarat pil pahit yang dihadirkan sebagai ujian kepada hamba-hamba-Nya yang beriman. Nikmati saja prosesnya, jalanilah setiap nafasnya dengan senyuman. Sebab, kalau Anda lari dari masalah, bisa jadi sebenarnya Anda sedang lari dari kasih sayang Allah SWT.

Untuk itu, agar Anda bisa melewati berbagai hambatan kehidupan dengan motivasi yang tinggi, etos kerja yang dahsyat, dengan husnudzon yang hakiki, maka akan kami perkenalkan 7 Etos Kerja berbasis Spiritual, INSYA ALLAH, Anda akan belajar Konsep EKSTRA dengan 7-AS, yaitu :

1. Kerja IKHLAS – Konsep 1.
2. Kerja JELAS – Konsep 2.
3. Kerja TEGAS – Konsep 3.
4. Kerja ANTUSIAS – Konsep 4.
5. Kerja MAWAS – Konsep 5.
6. Kerja CERDAS – Konsep 6.
7. Kerja TUNTAS – Konsep 7.

Secara keseluruhan, Insya Allah manfaat pelatihan yang akan dirasakan oleh peserta adalah :

1. Kerja Ikhlas akan membangkitkan kinerja karyawan yang bukan sekedar hitung-hitungan keduniawian, tapi juga perhitungan yang lebih hakiki, bahwa bekerja adalah ibadah kepada Tuhan YME.
2. Kerja Jelas adalah kerja yang membangkitkan energy focus pada setiap karyawan. Dengan kerja Jelas maka karyawan paham bahwa dengan berani memperjelas visinya, berani memperjelas dirinya, maka semesta penghasilan pun otomatis akan semakin “jelas”, dunia dan akhirat, atas izin-Nya.
3. Kerja Tegas adalah mengajak audien -peserta berani mengambil sikap ketika tidak mendapatkan tempat bertanya yang dianggap tepat. Hidup adalah pilihan, dan mansia yang hebat adalah manusia yang berani memilih dan berani mengambil resiko dari pilihannya. KeTEGASan sangat terkait dengan unsur KeTEGAan dari setiap individu. Seringkali, orang yang Kurang Pintar tapi TEGAS akan mengalahkan orang yang Pintar tapi Plin-plan atau tidak TEGA ketika harus menTEGAkkan keBENARan.
4. Kerja Antusias adalah bagaimana kerja menikmati proses sehingga menghasilkan produk yang juga nikmat. Orang biasa, hanya mampu menikmati hasil saja, sedangkan orang yang luar biasa mampu menikmati proses plus hasilnya.

5. Kerja Mawas adalah meyakini bahwa hitungan amal-energi yang dikeluarkan oleh Allah SWT tidak akan meleset. Sebab Allah Maha Teliti, Maha Menghitung. Diselaraskan dengan konsep energi, Hukum Kekelan Energi, dimana tidak ada energi yang hilang apalagi tertukar. Hasil adalah bukti dari kualitas usaha seseorang. Sehingga Anda akan bekerja dengan etos kerja yang tinggi dengan landasan keikhlasan yang berenergi.

6. Kerja Cerdas, Para peserta diajak untuk berpikir bagaimana agar bis a meningkatkan kreativitas dalam bekerja. Bukan Pikiran dan Perasaan yang menguasai jiwa, tapi jiwa yang menguasai pikiran dan perasaan. Sehingga Anda mampu menangani berbagai permasalahan dalam hidup Anda atas izin Allah SWT. Nah, itulah Cerdas.

7. Kerja Tuntas akan mengajak para Anda untuk menuntaskan pekerjaan mereka dengan penuh keikhlasan, kejelasan, ketegasan, keantusiasan, kemawasan, dan kecerdasan, yang diiringi oleh rasa tawakkal yang sangat tinggi.

Nah, mari kita simak penjelasan tentang 7-as pada tulisan berikut ini, semoga menjadi manfaat buat saya, anda, dan semesta. Aamiin.

1. Kerja Ikhlas

Banyak yang melihat, sedikit yang mendengar. Banyak yang mendengar, sedikit yang mendengarkan. Banyak yang mendengarkan, sedikit yang yang memperhatikan. Banyak yang memperhatikan, sedikit yang mengerti. Banyak yang mengerti, sedikit yang mengamalkan, dan banyak yang mengamalkan, tetapi sedikit yang ikhlas.

Ketika terlalu banyak faktor “melihat” dalam aktifitas Anda, maka Anda akan semakin tidak mudah untuk dekat dengan faktor “tak terlihat”. Dan Tuhan ada di dimensi tak terlihat dalam pandangan kasat mata. Itu sebabnya, orang-orang yang hidup hanya karena faktor-faktor yang terlihat pasti kehidupannya dipenuhi dengan unsur ego dan kegelisahan.

Manusia terdiri dari Gabungan Ruh (tak terlihat) dan Jasad (Terlihat). Nah keikhlasan adalah ketika Anda bisa memfokuskan hidup untuk Ruhani Anda tanpa Anda meninggalkan faktor Jasad Anda. Sehingga Anda berhasil menjadikan Ruhani sebagai driver dalam aktivitas jasad Anda.

Ikhlas adalah kemampuan Anda melakukan sesuatu tanpa motivasi duniawi yang rendah, tetapi karena motivasi akhirat yang tinggi. Ikhlas adalah ketika Anda melakukan hal-hal dunia atau hal-hal akhirat, hanya karena Allah SWT. Semua hanya karena Allah yang kekal abadi, dan bukan karena makhluk yang fana.

Anda makan bukan karena lapar, tapi Anda makan karena Allah. Dan Anda hanya menjadikan “lapar” sebagai ‘tanda’ dariNya agar Anda segera melakukan makan yang sehat dan hal.

Anda tidur bukanlah karena mengantuk, tapi Anda tidur karena Allah. Dan Anda menjadikan “mengantuk” sebagai ‘tanda’ dariNya bahwa Anda sedang membutuhkan tidur yang berkualitas atau istirahat yang cukup.

Anda bekerja di instansi Anda bukanlah karena Anda butuh uang, tapi karena Allah. Dan Anda menjadikan “kebutuhan akan uang” adalah sebagai ‘tanda’ dariNya agar Anda menta’ati aturan main dariNya supaya menghasilkan uang dengan cara yang halal dan penuh etika.

Menurut Anda, siapa yang akan menang bertarung, si A atau si B? A dan B mempunyai kekuatan yang kurang lebih sama, tapi si A bisa melihat si B, dan si B tidak bisa melihat si A, siapa yang kira-kira akan memenangkan pertarungan? Jelas, secara teori si A bisa memenangkan pertarungan tersebut.

Sebagaimana yang telah dibahas di bab awal, dalam Alam makrokosmos ini ada yang terlihat dan ada yang tidak terlihat. Ternyata, semakin tidak terlihat, maka semakin besar energi “bawah sadar” yang dibawanya. Itu sebabnya kebanyakan manusia kurang sukses melawan iblis, karena iblis tidak terlihat oleh kita, sedangkan iblis bisa melihat kita.

Mari kita simak Dalam Q.S. Al-A’roof ayat 16-17, Allah SWT berfirman, “Iblis berkata “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan menghalang-halangi mereka dari jalan Engkau yang LURUS, kemudian saya akan mendatangi mereka dari DEPAN, BELAKANG, KANAN, dan KIRI mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur”.

Tengoklah, iblis menggoda kita dari arah yang “biasa kita lihat” yaitu Depan, Belakang, Kiri, dan Kanan. Itulah arah semesta horizontal yang siap dimasuki oleh iblis. Nah, itu sebabnya jika Anda sangat menyukai sesuatu yang bersifat horizontal maka Anda akan mudah digoda oleh iblis.

Arah horizontal yang dimaksud adalah kecenderungan yang kuat terhadap dunia. Dunia adalah arah horizontal dan Akhirat adalah arah vertikal. So, orang-orang yang suka mengejar dunia, harta, wanita, rumah gedung, dan kendaraan mewah maka ia akan mudah digoda oleh iblis. Ini adalah konsep niscaya yang sederhana. Selama kita masih memiliki kecenderungan yang kuat untuk mengejar atau memiliki sesuatu yang TERLIHAT, maka kita akan mudah digoda oleh makhluk yang TIDAK TERLIHAT.

Itu sebabnya, agar Anda tidak mudah digoda dan diganggu oleh iblis maka Anda harus memperkuat “unsur-unsur yang tidak terlihat” yang ada di dalam diri Anda. Jadi membuat pertarungan yang seimbang, “invisible vs invisible”.

Apa saja unsur invisible (tidak terlihat) yang ada dalam diri Anda yang ditakuti oleh iblis? Tiada lain dan tiada bukan yaitu kekuatan spiritualitas yang Anda miliki. Yaitu berupa nilai-nilai ketaqwaan, kejujuran, keikhlasan, ketegasan, kasih sayang dan kebahagiaan.

“iblis berkata: “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma’siat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba Engkau yang IKHLAS di antara mereka”. (Q.S. 15 : 39-40).

Nah, sekarang apa yang Anda impikan selama ini? Apa yang Anda kejar selama ini? Apakah sesuatu yang TERLIHAT ataukah yang TIDAK TERLIHAT. Apakah mengejar HARTA BENDA atau mendekati Zat MAHA DAHSYAT yang telah menciptakan HARTA BENDA itu?

Maka sebenarnya Keikhlasan Anda akan lebih mudah Hadir hjika Anda berhasil mensinergikan antara IQ (Intelegence Quotient), EQ (Emotional Quotient), dan SQ (Spiritual Quotient), sehingga Anda memiliki PQ (Physical Quotient) dan AQ (Adversity Quotient) yang sangat baik.

Dalam IQ ada cermin kemampuan, dan EQ ada cermin kemauan, dan dalam SQ ada cermin nilai-nilai Kebenaran. Sehingga, ketika Anda berhasil mensinergikan ketiga cermin tersebut, yakni MAMPU, MAU, dan BENAR maka wajarlah jika Anda bekerja dengan lebih ikhlas di instansi Anda, sebab Anda sudah bekerja sesuai dengan kemampuan Anda, sesuai dengan kemauan Anda, dan sesuai dengan nilai-nilai Kebenaran yang Anda yakini.

2. Kerja Jelas

Ternyata energi akan berbahagia jika bersinergi bersama orang-orang yang bergerak, bukan para pemalas. Itu sebabnya jangan pernah menunggu energi motivasi hadir baru Anda mau bergerak, tapi bergeraklah maka energi motivasi akan semakin kuat hadir dalam hidup Anda.

Setiap benda yang ada di alam semesta ini mengandung energi yang bergerak. Udara bergerak, air pun bergerak, dan bahkan sebuah gunung pun tetaplah bergerak.

Firman Allah SWT, “Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagai jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu; sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Q.S. 27 : 88).

Ya, apapun yang ada di alam semesta ini bergerak, bahkan gunung yang kita sangka diam pun, ternyata bergerak. Dengan demikian, baik benda yang terlihat maupun yang tidak terlihat mempunyai sifat yang sama, yaitu BERGERAK, tentunya bergerak dengan caranya masing-masing.

Agar gerakan Anda menjadi bermakna, maka gerakan Anda haruslah JELAS. Jelas tujuannya, jelas maksudnya, jelas niatnya, dan jelas metode yang digunakannya. Inilah yang dimakdus dengan “impian” dan bukan “bermimpi”. Impian yang tidak digerakkan oleh Ikhtiar bertawakkal sama dengan “bermimpi”.

Itu sebabnya Anda harus menjadi pribadi yang senantiasa bergerak menuju impian Anda. Anda hanya boleh diam, jika itu dalam rangka pergerakan yang lebih baik. Sebab bergerak tanpa beristirahat adalah sebuah penzaliman diri sendiri. Sebab sesungguhnya, istirahat itu adalah bergerak dengan cara yang dalam dan menyegarkan.

Dengan kata lain, dalam bahasa manusia, maka bergerak itu dibagi menjadi dua, pertama Bergerak Kedalam, kedua Bergerak Keluar. Bergerak Kedalam adalah dalam rangka konsolidasi antar sel-sel dalam tubuh agar tetap rapih bersinergi, sedangkan Bergerak keluar adalah dalam rangka bersinergi dengan siapapun dan apapun yang ada di alam semesta. Dan kemana pun Anda bergerak, pastilah Anda akan bertemu dengan Allah, jika itu adalah tujuan Anda.

Energi mengalir ke tempat yang jelas, yakni ke tempat yang difokuskan, dan ke tempat yang diperhatikan. Itu sebabnya, orang-orang yang tidak berani “MEMPERJELAS SIAPAKAH DIRINYA” dan “SIAPA TUHANNYA” maka biasanya orang ini minim energi dan hidupnya minim dengan kualitas.

Bergerak itu harus jelas, sesuai prinsip energi yang pertama. Ingatlah, Bergeraklah dengan jelas, sebab kalau tidak jelas engkau tidak bergerak.

Itu sebabnya agar Anda bergerak dengan arah yang jelas, maka Anda harus mempunyai tujuan. Tujuan dihadirkan bukan untuk melahirkan ambisi dan frustasi, tapi tujuan dihadirkan untuk melahirkan antusiasme dan prestasi. Agar gerakan Anda menuju satu titik fokus. TIDAK MASALAH apakah tujuan itu kelak Anda capai atau tidak, selama Anda sudah BERGERAK dengan TUJUAN yang JELAS, Bergerak dengan ANTUSIAS dan hidup penuh energi, maka insya Allah yang terbaik akan Allah berikan dan hadiahkan kepada Anda.

Perjelas tujuan dari gerakan Anda dengan cara, 1. Tujuan utama adalah Allah dan mencari RidhoNya. 2. Tujuan kedua adalah membersihkan hati, membereskan jiwa, memenej dan mengelola energi di dalam diri. 3. Tujuan ketiga adalah membantu sesama, mencapai tujuan kelompok, instansi, atau organisasi. 4. Tujuan keempat adalah membahagiakan orang-orang yang Anda cintai. Dan 5. Tujuan kelima adalah mengejar impian pribadi Anda.

3. Kerja Tegas

Hidup adalah pilihan, dan setiap orang berhak memilih apa yang diinginkannya, asal saja dia mau menerima resiko dari pilihannya. Tidak ada pilihan yang tanpa resiko, tidak ada sebab tanpa akibat, dan tidak ada asap kalau tidak diawali api.

Pilihlah! Ibarat gelombang radio, ada dua frekuensi di kehidupan ini. Ada frekuensi radio AM dan ada pula frekuensi radio FM. Begitupun di semesta, ada dua frekuensi; frekuensi kebahagiaan dan frekuensi kesengsaraan.

”Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu kefasikan dan ketakwaannya.” (Q.S. Asy-Syams : 8)

Ya, fasik atau taqwa, sengsara atau bahagia, AM atau FM; Hidup adalah pilihan! Artinya, dalam jiwa kita ini ada dua magnet, pertama magnet kebahagiaan, dan kedua magnet kesengsaraan. Begitupun di alam semesta ada daya tarik kebahagiaan dan kesengsaraan.

Anda mau berada di sisi yang mana? Jika Anda ingin menjadi orang jahat silakan saja selama Anda siap menanggung resikonya, dan tentunya Anda tak perlu khawatir akan kehilangan orang-orang baik. Dan jika Anda menginginkan menjadi orang yang bertaqwa, maka tidak perlu sakit hati ketika Anda belum berhasil mengajak orang lain ke dalam atmosfer ketaqwaan Anda.

Maka beranilah dalam memilih. Orang yang kurang pintar tapi berani memilih biasanya jauh lebih sukses dibandingkan dengan orang yang pintar tapi sering ragu dalam mengambil keputusan.

Dengan demikian, tundukkan keraguan Anda dan tingkatkan keyakinan Anda untuk sukses yang sejati. Bahkan untuk hal yang sederhana saja, jika dilakukan dengan penuh keraguan yang memburu, maka hasilnya pun akan buruk. Cobalah sekali-kali Anda menyeberang jalan dengan penuh keraguan : kadang maju, kadang mundur, dan kadang diam tak menentu, maka yakinlah setiap kendaraan yang melewati jalan itu akan merasa terganggu, bahkan mungkin saja ia akan menabrak Anda dengan luar biasa. Berhati-hatilah!

Ya, begitulah orang-orang yang hidup penuh dengan keraguan, mau melangkah takut salah, mau mundur takut ngawur, mau diam takut tenggelam, akhirnya keraguan itu menular ke sekitarnya; niat supir mau menginjak rem, tapi malah gas yang terinjak mantap.

Keraguan itu menular dengan cepat, bahkan sangat cepat. Keraguan yang meyakinkan jauh lebih efektif memengaruhi lingkungannya dibandingkan dengan keyakinan yang masih meragukan. Jika Anda memiliki magnet keraguan yang kuat, maka Anda akan memprovokasi orang-orang yang nota bene memiliki keyakinan yang baik, yang ada di sekitar Anda. Jika keraguan Anda lebih berkuasa dibandingkan keyakinan orang-orang di sekitar Anda, maka keyakinan mereka akan berubah menjadi keraguan yang meyakinkan. Dan Anda tahu siapa biang keladinya? Pulihlah sebelum hal itu menimpa Anda.

Itu sebabnya, mulai saat ini BERANILAH mengambil sikap, TEGASLAH dalam keputusan Anda. Tidak perlu takut salah, sebab walaupun salah Anda berhak memperbaiki kesalahan Anda, dan itu jauh lebih terhormat dibandingkan Anda tidak mau mengakui kesalahan, lalu ber-status quo dalam kekeliruan Anda tersebut. Yakinlah sahabat, bahwa orang-orang yang hidup dalam keraguan akan : MEMBUNUH dirinya dan membunuh lingkungannya. Sekali lagi saya sampaikan, saat ini juga, bunuhlah rasa ragumu sebelum ia benar-benar membunuhmu tanpa ragu.

Itu sebabnya untuk dapat bertindak TEGAS maka Anda harus TEGA. Tak masalah Anda TEGA, asalkan TEGA dalam rangka TEGAkkan keBENARan. Tega Benar.

Kadang, perasaan tidak tega, atau perasaan kasihan inilah yang membuat hidup kita menjadi dikasihani, Seharusnya Anda bertindak dengan pondasi “Kasih Sayang” bukan dengna pondasi “Kasihan”. Sebab berbeda antara “Kasih Sayang” dan “Kasihan”.

Dengan demikian, ada perbedaan yang signifikan antara kata “Kasih (atau Kasih Sayang)” dan kata “Kasihan”. Antara Kata “Mengasihi” dan “Mengasihani”. Selama ini kita sering tertukar antara ke dua kata itu, padahal jika tertukar dapat membuat hidup kita dalam keadaan yang tidak nyaman. Niat kita berbuat baik, tapi justru malah keburukan yang kita dapatkan.

Mengasihi dan Mengasihani itu sangatlah berbeda, walau aplikasinya mirip tapi rasa hati dan efek dari rasa hati itu akan berbeda secara signifikan. Jadilah orang yang mengasihi dan tolonglah manusia atas dasar cinta kasih keikhlasan, serta janganlah menjadi orang yang mengasihani dan janganlah menolong orang karena perasaan kasihan. Saudaraku, mengasihani itu dasarnya adalah rasa kasihan, sedangkan mengasihi itu dasarnya adalah rasa Cinta Kasih dari Allah SWT.

Dan janganlah pula pernah berniat menjadi orang yang dikasihani oleh orang lain, tapi jadilah orang-orang yang selalu menebar cinta kasih sehingga orang-orang mengasihi kita karena dasar hati keikhlasannya, bukan karena rasa iba atau kasihan.

Dari beberapa kasus yang kami alami dan beberapa kisah dari para sahabat Khotib, rupanya Jika kita menolong seseorang karena rasa kasihan maka orang yang kita tolong tersebut akan tidak berkembang, atau kalaupun berkembang maka orang yang kita tolong tersebut akan menjadi bumerang bagi kita.

Nah, ketahuilah bahwa Kita akan dicintai dan dikasihi oleh manusia jika kita pun menebar cinta kasih yang sejati atas nama Arrohman dan Arrohiim. Tetapi kita hanya akan menjadi manusia yang dikasihani jika kita sudah terbiasa menjadi manusia yang mudah kasihan, mudah tidak tega, mudah iba, sering plinplan, dan tidak tegas. Hanya Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dan Hanya kepada Allah kita semua berserah secara penuh.

Begitupun dalam dunia kerja, maka Anda harus berani memilih dan berani menegakkan kebenaran dengan cara yang santun, mana hal yang bisa Anda tolelir dan mana hal yang harus Anda bersikap TEGAS dan TEGA. Ingatlah selalu bahwa Hidup adalah PILIHAN, dan setiap jiwa akan ditanyai tentang apa saja yang telah dipilihnya.

4. Kerja Antusias

Orang biasa adalah orang yang hanya pandai menghargai HASIL, sedangkan orang yang luar biasa adalah orang yang pandai menghargai PROSES plus HASILnya.

Dan Anda dikatakan bekerja ANTUSIAS ketika Anda berhasil menghargai Proses tanpa melepaskan fokus Anda kepada tujuan dari proses tersebut. Kemampuan Anda menikmati proses yang ada akan melahirkan antusiasme yang luar biasa dalam pekerjaan Anda. Dan kesadaran “menikmati proses” ini hanya segelintir orang yang memilikinya, karena untuk mendapatkan kesadaran ini maka ia harus memantapkan diri lebih dahulu pada situasi bekerja IKHLAS.

Antuasiasme bukanlah berarti bahwa Anda semangat mengejar dunia lalu melupakan Tuhan yang telah menciptakan dunia, tetapi justru antusiasme hadir atas kesadaran bahwa Tuhanlah yang terindah dalam hidup Anda, dan DIA selalu menatap dan mendampingi aktivitas kehidupan dan pekerjaan Anda. Kesadaran penuh akan ditatap selalu oleh Allah inilah yang membuat hidup menjadi enggan untuk enggan.

Nah, ketika Anda sudah bekerja dengan antusiasme yang benar, maka ketahuilah bahwa antusiasme itu MENULAR, sebagaimana juga KERAGUAN itu menular. Maka lawanlah para peragu itu dengan antusiasme Anda dalam hal beretos kerja. Bekerja lalu mendapatkan uang itu memang menyenangkan, tapi Bekerja lalu mendapatkan ridho Allah itu sangatlah indah dan membahagiakan. Hidup Antusias adalah hidup yang indah, Bahagia, dan menyenangkan.

5. Kerja Mawas

Kerja MAWAS yang dimaksud adalah bahwa kita harus bekerja secara SEIMBANG. MAWAS DIRI. Dengan selalu menerapkan konsep EMPAT-i, atau 4-i.

“I” pertama adalah Instrospeksi. “I” kedua adalah “Identifikasi”. “I” ketiga adalah Inisiatif. Dan “I” keempat adalah “Individual touch”.

Introspeksi, berani gali lebih dalam lagi…

Dalam berjama’ah, mulailah dengan introspeksi diri. Sebuah anekdot yang sangat berkesan akan saya ceritakan kepada Anda. Pada suatu hari, di sebuah acara orientasi penerimaan mahasiswa baru, datanglah seorang kakak kelas yang sombong lalu marah-marah di sebuah ruangan kelas, “Kalian semua, Goblok!”. Semua mahasiswa baru terdiam. “Kalian semua Goblok, ga becus, sombong, dan tidak bisa mengontrol diri. Ayo, yang goblok berdiri!” Terang saja, tidak ada satu mahasiswa pun yang berdiri, ‘lagi pula siapa sih yang mau dikatain goblok?’ Mungkin begitu pikir mereka. Akhirnya emosi sang kakak bertambah, “Ayo Cepaaat…yang goblok berdiri!”.

Tak lama kemudian seorang mahasiswa baru berdiri dengan agak ragu. Si Kakak Senior pun berbinar matanya dan langsung membentak, “Kamu, yang berdiri, dasar goblok! Kamu ya, yang bikin semua jadi ikut goblok?”. Tak dinyana mahasiswa baru tersebut berani menjawab dengan santun tapi jelas, “Maaf Kak, saya tidak goblok kok!”. Kontan sang kakak terbahak keras dalam kesombongannya dan mengatakan, “Lha, udah tau ga goblok, kenapa berdiri? Apa kamu ga dengar yang saya katakan, ‘yang goblok Berdiri!’ hah?”. “Dengar kok Kak” timpalnya lirih, tapi katanya kemudian, “Justru itu kak, saya ga enak lihat kakak berdiri sendirian!”.

Begitulah, tidak sedikit manusia seperti sang kakak yang sombong itu. Kita seringkali melupakan kesalahan kita, sehingga orang lain selalu terlihat salah. Sebab itu, yakinlah sepenuh hati bahwa mereka yang selalu menyalahkan orang lain, biasanya termasuk orang-orang yang enggan mengakui kesalahan sendiri, dan enggan melakukan introspeksi diri.

Maaf, seharum apa pun ruangan tamu di rumah Anda, jika di hidung Anda masih menempel tahi kucing, maka Anda akan mengatakan, “Ruang tamunya bau tahi kucing”. Artinya, mulailah dari diri sendiri. Mulailah introspeksi kekurangan diri. Mulailah dengan beraksi bukannya mengomentari ataupun mencaci. Ketika hidung Anda sudah bersih dari gangguan yang beraroma tidak sedap, maka penilaian Anda akan kembali objektif. Maka katakanlah, “ruang tamunya harum semerbak, aku bahagia!”

Maaf, selama kotoran kucing tersebut masih menempel di lubang hidung Anda, maka kemana pun Anda pergi, dimana pun Anda berada, maka akan terasa bau yang tak sedap. Ya begitulah kenyataannya, Anda cenderung menjadi suka menyalahkan orang lain dan lingkungan Anda, ketika Anda masih gagal mengoreksi kesalahan diri sendiri. Itu sebabnya, mengapa Introspeksi itu adalah awalan sebelum Anda menginjak pada tahapan identifikasi. Sebab, identifikasi tak akan maksimal jika tidak dimulai dari mengintrospeksi diri sendiri.

Perhatikanlah, orang yang sering bergonta-ganti pasangan hidup, lantaran selalu merasa pasangannya tidak ideal, lalu ia cerai lagi dan cerai lagi, maka seharusnya orang itu mengoreksi dirinya terlebih dahulu, baru kemudian pasangannya. Sebab, selama “sang tahi” belum dihilangkan dari dalam lubang hidung orang tersebut, maka siapa pun pasangan yang mendampinginya akan menjadi “bau” bila bersamanya. Jadi, mulai saat ini, jika Anda ingin sukses bahagia maka : mulailah bergerak, barulah Anda berteriak, dan mulailah beraksi, barulah Anda mengomentari.

Artinya, Anda akan gagal berempati secara benar terhadap orang yang butuh bantuan Anda, bila Anda masih gagal membantu diri Anda sendiri. Maka bantulah diri Anda, dimulai dari KEBERANIAN Anda melakukan introspeksi diri.

Identifikasi, panca indera semesta dari hati yang bening…

Setelah Anda sukses melakukan introspeksi diri, maka kini saatnya Anda melakukan identifikasi, sebagai tahapan lebih lanjut dari EMPATI. Lakukanlah identifikasi dengan sepenuh hati. Sekali lagi saya tekankan, hanya orang-orang yang sukses melakukan introspeksi, maka ia akan gemilang melakukan identifikasi.

Sebagai tambahan yang memantapkan bagi Anda, maka pahami dan identifikasikan juga tentang keseimbangan di alam semesta ini. Segala sesuatu telah diciptakanNya dengan sangat seimbang. Itu sebabnya Anda harus selalu mawas diri, sebab apa pun yang Anda lakukan hari ini akan menuntut keseimbangan di esok hari. Nah inilah, yang kami sebut dengan istilah Bank Semesta.

Sebagai ilustrasi, jika di negara kita ada berbagai macam Bank sebagai tempat menyimpan dan memutar uang nasabahnya, maka dalam alam Makrokosmos pun ada Bank. Bank itu bernama Bank Semesta yang berfungsi menyimpan dan memutar harta Anda. Harta Anda disimpan dalam bentuk Energi (tabungan amal) dan dikembangkan pun dalam bentuk energi (amal jariyah).

Contoh, jika ada seorang PNS bergaji Rp. 2 juta, dan ia termasuk PNS yang rajin, kalau bekerja tidaklah itung-itungan, maka sebenarnya kinerja Energi di Makrokosmos akan selalu mencari titik penyesuaiannya. Sebab tidak ada ENERGI yang HILANG. Semakin banyak nilai ENERGI (baca : Amal/Usaha) yang dikeluarkan oleh PNS tersebut, maka semakin banyak ENERGI (baca : Hasil) yang dia dapatkan. Dan itu sama sekali tidak melulu terkait dengan nilai GAJInya. Sekali lagi perlu dipahami bahwa ENERGI itu sangat luas, ia bisa beruapa NIAT, AMAL atau USAHA, tapi ia bisa juga berupa PAHALA, RIZKI, atau HASIL.

Kita kembali ke BANK SEMESTA dan GAJI PNS. Dengan demikian, ketika BANK SEMESTA melihat kinerjanya dan menilai, “Wah, bapak Fulan, pada bulan ini, layak mendapatkan energi sebesar Rp. 5 juta” Artinya, walaupun ia hanya digaji sebesar Rp. 2 Juta, tidaklah mengapa, sebab sebenarnya ia sudah MENABUNG di Bank Semesta sebesar Rp. 3 juta (5jt dikurangi 2 jt). Artinya, jatah energi yang 3 juta tidak akan hilang. Sehingga, dapat dianggap setiap bulannya ia menabung sebesar Rp. 3 juta, maka jika perilakunya relatif sama setiap bulannya, dalam 1 tahun ia sudah menabung kira-kira Rp 36 juta.

Nah, sekarang bayangkan sebuah ATM, dan bayangkan buku tabungan Anda yang bersaldo 36 juta. Kemudian kalau Anda berkehendak, “menarik” uang Anda lewat ATM sebesar Rp.10 juta, tentu saja insya Allah pasti bisa, walaupun dicicil, sekali “tarik” maksimal Rp. 2 juta. Karena apa? Karena tentu saja di tabungan Anda terdapat saldo berupa UANG senilai Rp. 36 juta.

Begitupun ketika Anda berdoa kepada Allah, yang saya ibaratkan seperti menarik uang dari ATM-SEMESTA, dan Anda pun memiliki SALDO yang cukup banyak di Bank Semesta, maka insya Allah keinginan Anda akan terkabul. Tentunya asalkan “keinginan atau do’a” yang Anda panjatkan itu tidak melebihi nilai SALDO yang Anda miliki.

Misalkan Anda berdo’a, “Ya Allah saya minta motor, sebab perlu untuk memperlancar usaha saya”. Maka wajar jika keinginan Anda dikabulkan. Logikanya saldo Anda sebesar Rp. 36 juta, sedangkan harga motor hanya 15 juta. Mungkin ceritanya lain jika Anda berdoa, “Ya Allah saya minta mobil Lexus”. Tentunya Anda harus menambah saldo Anda terlebih dulu, karena untuk meminta yang lebih dari saldo Anda, lalu jika Allah mengabulkan keinginan Anda yang berlebihan itu, maka bisa jadi sebenarnya Anda menjadi memiliki banyak hutang kepada Bank Semesta.

Nah, sekarang andaikan PNS itu berpikir, “Lha, ngapain kerja rajin-rajin, wong turu ora turu gajine tetep wae”. Astaghfirullah, jangan pernah remehkan diri sendiri dengan cara meremehkan kinerja SUNNATULLAH di semesta. Kalau Bank Semesta melihat Anda hanya layak digaji Rp 1 juta, tetapi Anda mendapatkan imbalan dari pemerintah sebesar Rp. 2 juta, berarti sebenarnya Anda sudah berhutang kepada Bank Semesta sebesar Rp. 1 juta.

Bayangkan jika Hutang itu terus berlanjut setiap bulannya dan terakumulasi dalam 10 tahun, maka Anda sudah berhutang sebesar Rp. 120 juta (1 jt x 12 bulan x 10 tahun) kepada Bank Semesta. Dan tentu saja, Debt Collector Bank Semesta akan bertindak tegas, tanpa pilih kasih, dan tidak bisa dirayu. Debt Collector akan menagih di saat yang tepat, di saat Anda benar-benar tidak menyangkanya, dan ia bisa saja mengambil hutang energi Anda secara paksa senilai Rp. 120 juta. Mungkin saja ia mengambil salah satu bagian dari tubuh Anda. Iiih…. seremmm… na’udzubillahimindzalik.

Namun, perlu juga diperhatikan secara sungguh-sungguh, yakni ketika harta pun terkumpul, harta yang berlimpah, semua kebutuhan primer dan sekunder mudah terpenuhi, dan dunia pun terasa berada dalam genggaman, maka berhati-hatilah.

Mengapa? Karena ketika engkau sudah cukup berlimpah secara materi, padahal engkau masih belum bertaqwa maka bisa jadi kekayaanmu itulah yang mempecepat dirimu menuju kesulitan sejati di akhirat.

“Maka tatkala mereka melupakan PERINGATAN yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong. Maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (Q.S. Al-An’am : 44).

Berhati-hatilah, ketika Anda masih belum sempurna melaksanakan sholat lima waktu, belum lagi menjadikan sholat malam sebagai ibadah penggugah, tilawah Al-Quran masih sebulan sekali dan itu pun masih dibaca terbata, maka kekayaan Anda bukanlah sesuatu yang membuat hidup Anda berkah, walau mungkin saja kekayaan Anda berasal dari sesuatu yang halal.

Itu sebabnya, bagi Anda yang sudah terlanjur Kaya, maka segeralah seimbangkan kekayaan Anda tersebut dengan amal ibadah yang optimal, kesyukuran yang maksimal. Tapi, bagi Anda yang hari ini belum kaya dari sisi materi, maka beruntunglah, sebab inilah saatnya Anda berbenah, memperbaiki diri, tingkatkan ibadah, sholat tahajjud, dan tilawah Al-Quran setiap hari. Selamat!

“Maka tatkala mereka melupakan PERINGATAN yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong. Maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (Q.S. Al-An’am : 44).

Sebagai tambahan, saya memperhatikan berdasarkan literatur Al-Quran dan Al-Hadist, bahwa tentu saja Prinsip BANK SEMESTA ini bekerja secara sunnatullah yang kesemuanya, proses kerjanya, ada dalam keputusan Allah. Manusia bisa memprediksi tapi tidak bisa memastikan, apalagi memutuskan.

Itu sebabnya TABUNGAN AMAL orang beriman dan TABUNGAN AMAL orang yang ingkar dibalas dengan cara yang berbeda. Orang yang mengingkari keberadaan Allah, maka setiap TABUNGAN AMALnya akan DIBALAS PENUH di dunia, sedangkan orang-orang yang beriman, maka sebagian besar TABUNGAN AMALnya dibalas di akhirat. Sedangkan “rejeki” orang yang beriman, lebih kepada balasan langsung yang diberikan Allah kepadanya karea ia TA’AT menjalankan ibadah-ibadah yang dititahkanNya.

Mari kita perhatikan sejenak hadist berikut, dari Anas ra. Rosulullah saw bersabda : Sesungguhnya orang yang ingkar (kepada Allah) itu bila berbuat kebaikan maka ia langsung diberi balasan di dunia. Adapun bagi orang2 yang beriman, maka sesungguhnya Allah ta’ala MENYIMPAN kebaikan-kebaikannya itu untuk nanti dibalas di akhirat, dan ia dikaruniai rizki di dunia ini lantaran ketaatannya (kepada Allah). (HR Muslim, Terjemah Riaydhus Sholihin 1, hal 238).

Sehingga pada akhirnya saya simpulkan bahwa Prinsip BANK SEMESTA ini bekerja bukan semata pada batas MIKROkosmos dan MAKROkosmos, tapi bekerja seluas SPIRITUALkosmos yang tidak terbatas bahkan tak terduga dalam pengaplikasian keteraturan-Nya tersebut. Dan jika Anda orang yang bertaqwa, maka fokuslah kepada ketaatan kepada Allah, dan jadikan dunia hanya sebagai ladang amal Anda, yaitu sarana berbagi kepada semesta, bukan sarana mencari kebahagiaan.

Inisiatif, bukan sekedar teori…

Tahap berikutnya, lakukanlah inisiatif, jangan hanya berteori. Setelah Anda melakukan introspeksi dan identifikasi, maka Anda insya Allah akan dimudahkanNya untuk melakukan inisiatif.

Inisiatif adalah sebuah AKSI nyata dari apa yang sudah anda yakini, atau pertimbangkan. AKSI adalah singkatan dari Aku Kerjakan Sekarang Ini.

Dalam beraksi maka perhatikan Pola Kata dan Pola Aksi Anda. Untu Pola Aksi sudah banyak kita bahas pada uraian-uraian sebelumnya, yakni harus ikhlas, jelas, tegas, mawas, dan antusias. Sedangkan dalam Pola Kata, agar perkataan Anda lebih membumi dan indah maka simaklah beberapa aturan sederhana dalam beraksi di pola kata berikut :

1. Kurangi kata “jangan”. misal “jangan lari”, ganti dengan “tolong berhenti”
2. Ubah kata menjadi positif. misal, “sulit” jadi “tidak mudah”
3. Ubah kalimat agar ujungnya positif. misal “Bisa tapi sulit”, ganti menjadi “Sulit tapi Bisa”.
4. Kurangi kata “tapi” perbanyak kata “dan”
5. Kurangi kata yang lebay~tidak jelas, dan gunakan kata yang jelas dan tegas
6. Perbanyak dalam koridor yang tepat kata “Tolong”, “Terimakasih” dan “Apa yang bisa saya bantu dan bisa kita sinergikan?”

Individual Touch, untuk sentuhan lebih bermakna…

Tentunya Anda harus memiliki standarisasi sentuhan empati yang berbeda, antara satu “model” manusia dengan manusia lainnya. Berempati kepada wanita, berbeda dengan berempati kepada pria. Berempati kepada orang dengan karakter visual, berbeda dengan berempati kepada orang yang berkarakter auditorik maupun kinestetik. Berempati kepada orang dengan karakter plegmatis, tentunya berbeda dengan berempati kepada orang-orang yang berkarakter melankolis, sanguinis, atau pun koleris. Ketika Anda mengetahui ciri karakter mereka, maka Anda bisa menjalin kebersamaan, sebab Anda tahu apa yang bisa membuat mereka nyaman.

Pahami karakter mereka, lalu selaraskan dengan karakter Anda, dan raihlah kepercayaannya. Jika Anda ingin orang lain merasa nyaman dengan Anda, maka buatlah “untuk sementara” diri Anda mirip dengan orang tersebut. Perhatikan apa kata-kata favoritnya, dan ikutilah. Jika ia termasuk orang yang suka berdialog dengan istilah “aku” dan “kamu”, maka Anda harus sesuaikan, jangan dipaksakan menggunakan istilah “ana” dan “antum”. Kalau dia menyukai istilah “paradigma” maka Anda gunakan juga kata “paradigma”, dan jangan diubah menjadi “kerangka berfikir”, walau sebenarnya arti dari paradigma itu adalah kerangka berpikir.

Selain Anda coba menyelaraskan pola kata, Anda juga perlu menyelaraskan pola nafasnya. Hal ini memang terlihat aneh, tapi jika Anda sudah “kompak”, kapan saatnya menarik nafas, dan kapan saatnya menghembuskan nafas, maka insya Allah orang tersebut akan merasa, dalam pikiran bawah sadarnya, bahwa Anda adalah “belahan jiwanya”. Bahkan sebaiknya, lebih dari 50% gerakan tubuh favoritnya (pola tubuh), Anda pun harus mengikutinya. Maka, percayalah ia akan kian mengagumi dan mempercayai Anda. Insya Allah.

Jadi, jika Anda sudah sukses bercermin dengan partner komunikasi Anda, yakni sukses bercermin lewat pola kata, pola nafas, dan pola tubuh, maka Insya Allah Anda sudah mulai menjadi komunikator yang menyenangkan. Dan bahkan anda pun akan lebih mudah berempati jika sukses bercermin dengan “getaran suara” rekan bicara Anda. Insya Allah. Dalam berkomunikasi, jemputlah getaran suara teman bicara Anda, 50% Anda bergerak ke dia, sisanya biarkan dia menyesuaikan vibrasi Anda, maka terjadilah “kesepakatan” getaran suara. Dan, insya AllahGetaran suara dapat menembus hati.

6. Kerja Cerdas

Kerja Cerdas terkait erat dengan AQ (Adversity Quotient), bagaimana sikap Anda dalam menghadapi masalah dan kesulitan. Sejauh mana kegigihan anda untuk tetap bertahan pada keyakinan jalur Anda dalam menggapai kesuksesan yang Anda yakini kebenarannya.

Saudaraku, ketika masalah itu hadir maka ada pola standar yang harus Anda lakukan. Sungguh, bukan masalahnya yang menjadi masalah, tapi bagaimana sikap Anda ketika masalah itu hadir. Masalah itu adalah sebuah kepastian, tetapi sikap Anda dalam menghadapi masalah yang hadir adalah sebuah pilihan.

Ya, ketika hadir sebuah masalah maka segeralah mengingat Allah lebih dalam dan lakukanlah INSTROSPEKSI, dan berpikirlah, “Apa yang telah saya lakukan, sehingga hadir masalah ini?” Berpikir ke depan dan visioner itu sangatlah baik, tetapi melihat ke belakang sekilas saja, flash back, insya Allah akan membuat Anda menginjak gas mobil kehidupan Anda dengan lebih yakin.

Ibarat Anda sedang mengendarai mobil, tentunya membutuhkan kaca spion sebelum melakukan aksi terobosan yang memukau. Namun demikian, Anda tidak boleh melihat kaca spion terus-terusan, sebab bagaimana pun juga finish pasti ada di depan, tidak mungkin ia ada di belakang Anda. Ya, tak baik terlalu lama melihat masa lalu, maafkanlah ia, dan fokuslah pada kenikmatan Allah yang dihadirkan hari ini, seraya bergeraklah ke depan menuju kenikmatan-kenikmatan berikutnya.

Artinya, kaca spion yang saya maksud adalah kemampuan Anda untuk melakukan aksi INTROSPEKSI dengan cepat ketika masalah itu hadir menimpa Anda. Tanyakanlah ke dalam diri Anda, ke dalam hati yang terdalam di dalam diri Anda, di mana di sana ada Allah yang menggenggam hati Anda. Tanyakanlah kepada hati Anda. Tanyakanlah kepada Allah, “Ya Allah, apa maksud semua ini, apa yang harus aku lakukan, aku berserah penuh pada keteraturan yang Engkau buat, ya Allah.” Ketika AZAB/PERINGATAN yang menjemput Anda maka segeralah bertobat dengan beristighfar, sedangkan tatkala yang hadir itu sebuah UJIAN maka sesungguhnya ujian itu hadir sebagai anugerah, sebab berbagai ujian itulah yang melahirkan potensi dan kualitas Anda yang sejati di kemudian hari.

Ya, kadang kita masih bingung apakah kesulitan yang hadir ini berupa AZAB/PERINGATAN ataukah UJIAN/ANUGERAH. Namun, Jika Anda sudah terbiasa membersihkan diri maka hati kecil Anda akan menginformasikan kepada Anda apakah masalah/kesulitan tersebut sebuah azab/peringatan ataukah justru sebuah ujian/anugerah.

Namun secara prinsip, berdasarkan apa yang penulis alami dan amati, ternyata apabila Anda mendapatkan kesulitan setelah sebelumnya Anda berlaku maksiat, maka kesulitan itu biasanya sebuah PERINGATAN/AZAB, dan ketika Anda mendapatkan kesulitan karena sedang meraih atau mengejar sebuah keinginan/impian/doa, dan Anda pun tidak sedang berlaku maksiat, maka insya Allah kesulitan itu hadir sebagai UJIAN/ANUGERAH.

Semakin besar keinginan Anda, maka semakin kuat ujiannya. Tapi tak jarang pula kesulitan hadir sebagai perpaduan antara peringatan dan ujian, perpaduan antara azab dan anugerah. Hal ini bisa saja terjadi disebabkan ketika Anda sedang mengejar sebuah impian, Anda tetap melakukan perbuatan maksiat. Apalagi jika dalam mengejar impian itu, Anda terlalu ambisius sehingga nyaris lupa bersyukur, nyaris lupa menikmati kehidupan Anda saat ini, dan sibuk membayangkan kenikmatan masa depan Anda yang belum pasti. Tapi di balik itu semua, yakinlah bahwa setiap kesulitan yang diikhlaskan dan di-istighfarkan, insya Allah akan melahirkan kemudahan-kemudahan yang penuh dengan keberkahan.

Sahabat, ingatlah bahwa Anda tak perlu berlama-lama di episode introspeksi ini. Yang jelas, tak perlu menyalahkan siapa pun ketika Anda melakukan proses introspeksi ini. Mohon diingat, ini adalah sebuah aksi introspeksi, bukan identifikasi. Introspeksi itu ke dalam sedangkan identifikasi itu seringkali keluar dan akhirnya berujung pada kesimnpulan bahwa masalah tersebut hadir karena kesalahan orang lain, dan Anda hanyalah korban. Dan itu pastinya kesimpulan yang merugikan Anda. Jangan pernah merasa menjadi korban, apa pun masalah Anda.

Setelah Anda sukses berintrospeksi, maka lanjutkan segera ke langkah AKSI SOLUSI. Ketahuilah, bahwa solusi dari masalah Anda seringkali tidak berada pada masalah-masalah yang Anda miliki. Tetapi solusi Anda berada pada kehendak Allah, di mana Allah memiliki kehendak bahwa Dia akan membantu Anda jika Anda mau membantu hamba-hamba Allah lainnya.

Sahabatku, mulai hari ini jangan bereskan masalah Anda dengan cara yang biasa! Rupanya, di Al-Quran masalah itu dihadirkan sebagai ujian dan bukan untuk kita fokuskan. Bukan untuk kita selesaikan dengan kemampuan diri kita, melainkan dengan kemampuan yang ajaib yang datang dari-Nya. Sebab kita tak memiliki kemampuan apapun kecuali hanya sekedar titipan dari-Nya.

Laa haula walaa quwwata illaa billaah. Sebab kita tak punya kemampuan selain dari kemampuan Allah semata.

Dalam Surat Alam Nasyrah kita disuruh menyelesaikan urusan kita dengan bersungguh-sungguh. Nah, Apakah urusan kita itu?

Urusan kita bukanlah permasalahan yang melingkari kehidupan kita, tapi urusan kita adalah membereskan apa yang ada di pusat lingkarannya, yaitu jiwa kita, yang berefek kepada terbantunya terselesaikannya permasalahan yang melingkari kita dan masalah orang-orang di sekitar kita. Jadi urusan yang lebih utama adalah membantu membereskan jiwa kita sendiri. Masalah itu tidak menjadi masalah jika jiwa kita tidak bermasalah. Artinya apa? jika Anda, ingin permasalahan Anda beres, maka tata hati Anda, bereskan jiwa Anda, hilangkan prasangka tak perlu, bersihkan hati, dan bantulah untuk menyelesaikan permasalahan orang-orang di sekitar Anda. Maka, insya Allah, secara tak terduga, masalah yang melingkari Anda akan otomotis sirna.

Sesungguhnya kita saling terhubung, artinya masalah saya adalah masalah Anda, dan masalah Anda adalah masalah saya. Itu sebabnya jika saya berhasil membereskan sebagian masalah saya, maka secara otomatis saya pun tengah berkontribusi menyelesaikan sebagian masalah Anda, dan jika Anda pun berhasil menyelesaikan sebagian masalah Anda maka Anda pun telah berkontribusi membantu menyelesaikan sebagian masalah saya. Sehingga, dengan Anda membantu orang lain, maka Anda sedang membantu diri Anda sendiri. Otomatis.

Itu sebabnya beberapa hadist mengindikasikan demikian. Saya akan tampilkan dua hadist diantaranya,

1. Sebaik-baik manusia adalah manusia yang banyak memberikan manfaat kepada manusia lainnya
2. Barang siapa yang memudahkan hajat/urusan saudaranya maka Allah akan memudahkan hajat/urusannya

Tapi nyatanya, tidak sedikit yang hari ini dianggap berhasil membantu menyelesaikan masalah saudaranya, tapi ia sendiri masih berkutat dengan masalahnya sendiri. Lalu, ada apakah gerangan?

Sebelumnya, mari kita bayangkan, seandainya manusia di seluruh dunia hanya fokus kepada masalahnya masing-masing, maka mana mungkin bisa terjadi sinergi yang baik. Saya dulu pernah tidak jadi berbuat baik karena saya fokus terhadap masalah saya. Ketika saya hendak bersedekah dengan seseorang yang sangat membutuhkan, eh tidak jadi karena adanya bisikan pikiran :”Hai Zain, kok kamu ini ga tahu malu ya? kamu sendiri kan banyak utang, eh malah sedekah.Apa gak malu sama Allah?”

Ketika Anda hari ini sedang memiliki masalah, maka sebenarnya Anda sedang diberikan “tanda” oleh Allah bahwa :
1. Ada yang harus dibersihkan dari dalam hati Anda
2. Ada orang-orang di sekitar Anda yang sedang butuh bantuan Anda.

Dengan demikian, pasanglah selalu antene kebajikan itu, dan lakukan searching dengan hati terdalam Anda dan rasakanlah! Jika hati Anda sudah atau terus dibersihkan, maka Anda akan mudah menemukan mereka yang butuh bantuan Anda. Lalu, bantulah mereka! Maka, perhatikan apa yang terjadi! ketika Anda membantu menyelesaikan masalah-masalah mereka, maka justru masalah Anda secara “ajaib” menjadi selesai atas bantuan Allah Swt.

So, solusi dari permasalahan Anda tidak harus berada dibalik permasalahan yang melingkari Anda tersebut, tapi justru seringkali berada dibalik permasalahan orang-orang di sekitar Anda.

Begitulah dalam tataran action dimana kita harus fokus membantu sesama yang mana bisa berkontribusi kepada selesainya permasalahan kita. Namun demikian, untuk titik hati justru kita harus fokus kepada diri kita. Sebab, tidaklah mungkin Allah memberikan atau menampakkan sesuatu di hadapan kita tanpa ada maksudnya. Artinya, pasti ada maksudnya. Dan, maksud itu pun bersemayam di dada kita. Hanya saja, dada kita sering tertutupi dengan permainan dunia, sehingga kita gagal membaca pesan Ilahi atas penampakan yang terjadi. Tetapi dengan terus melakukan aksi pembersihan hati atau pensucian jiwa, maka insya Allah “maksud” dariNya kana lebih mudah kita pahami.

Dengan kata lain tidaklah mungkin Allah iseng menghadirkan ketidakberesan di hadapan kita kecuali sebagai tanda bahwa ada yang tidak beres di dalam diri kita. Maka bereskan diri Anda, bukan bereskan masalah Anda! Kalau Anda bereskan diri Anda, maka Anda menjadi senang membantu orang lain, sehingga masalah Anda pun menjadi lebih cepat diselesaikanNya. Insya Allah.

Jika diurutkan, maka ketika masalah hadir: Pertama, bereskan diri Anda! Kedua, bereskan masalah orang-orang di sekitar Anda! Ketiga, baru bereskan masalah Anda. Tapi semoga dengan membereskan diri Anda, maka Anda sudah mendapatkan banyak keajaiban dalam hidup ini, antara lain yaitu berkurangnya secara drastis orang-orang yang bermasalah yang ada di sekitar Anda, khususnya adalah berkurangnya masalah Anda secara pribadi. Subhanallah.

7. Kerja Tuntas

Banyak orang yang punya ide, tapi sedikit yang bisa merealisasikannya. Banyak orang yang merealisasikannya di awal, tapi sedikit yang merealisasikannya hingga akhir dan tuntas. Dan banyak oang yang tuntas dalam merealisasikannya tapi sedikit yang bersyukur atau bersabar atas hasilnya.

Tuntaskan apa yang sudah Anda mulai karena Allah selalu bersama Anda, menatap Anda, dan menyukai apa yang Anda kerjakan dengan baik dan benar. Anda pasti tidak ingin mengecewakanNya yang begitu memperhatikan Anda. Teruslah bergerak, tuntaskan apa yang sudah Anda mulai, tidak masalah berapa kali Anda terjatuh, yang penting adalah berapa kali Anda bangkit setelah Anda terjatuh.

Yup, tidak masalah berapa kali Anda jatuh atau dijatuhkan, yang penting berapa kali Anda bangkit setelah Anda terjatuh. Jatuh dan GAGAL ITU BIASA, tapi BANGKIT DARI KEGAGALAN ITU LUAR BIASA.

Ya, Anda akan LUAR BIASA jika dapat mengubah kegagalan menjadi kesuksesan, mengubah cacian menjadi senyuman. Ketika pun banyak batu bata yang dilemparkan kepada Anda secara murka, maka Anda tidak perlu membalas murkanya, tapi cukup dengan tenang plus semangat menangkap batu bata tersebut satu persatu, atau dua dan tiga sekaligus, lalu Anda susun menjadi sebuah benteng dan bangunan yang indah. Ya, cacian dan hinaan bisa Anda jadikan sebagai modal kesuksesan yang murah, bahkan gratis, tapi berefek dahsyat. SELESAI, TUNTAS !

Ketika seseorang sering mengalami kondisi yang meragukan, lalu tidak cepat pulih dan mengambil sikap tegas, alias ia masih tetap bingung dalam keraguannya, maka YAKINLAH ia akan hidup dalam kondisi jantung yang selalu berdetak dengan tidak tenang, stress pun jadi sahabat kesehariannya, akhirnya ia sangat berpeluang untuk mengidap penyakit jantung, darah tinggi, dan stroke. Semakin “semangat” ia hidup dalam keraguannya, maka semakin BESAR peluangnya untuk mengidap penyakit-penyakit tersebut, bahkan di saat usianya yang masih cukup muda.

Jika Anda masih berpikir bahwa masalah-masalah itu merupakan beban dan musibah yang menjatuhkan, maka saya ucapkan : ”Selamat Menempuh Hidup Stress!”. Sebab, bagaimanapun juga hidup ini memang diisi dengan berbagai macam bentuk masalah. Mulai dari bangun tidur hingga mau tidur lagi, itu semua diisi dengan rangkaian permasalahan. Bahkan hal yang sepertinya tidak ada masalah, sebenarnya tetaplah sebuah masalah yang harus dihadapi dengan bijak.

Contoh, apakah menurut Anda tertawa itu bukan masalah? Tertawa memang nikmat dan bagian dari kenikmatan, tapi ketahuilah bahwa kenikmatan bisa merupakan masalah yang berbahaya kalau Anda menyikapinya dengan salah. Banyak tertawa bisa membuat hati seseorang mati, dan mengantarnya menuju neraka idaman pikiran bawah sadarnya. Belum lagi, ketika Anda tertawa maka Anda akan mengeluarkan energi yang cukup kuat untuk bersuara lebih, sehingga perut Anda kadang menjadi tegang dan timbul rasa sakit.

Contoh lainnya, seseorang yang tersenyum lalu senyumannya tidak dibalas maka bisa jadi masalah, dan seseorang yang tersenyum lalu senyumannya dibalas pun bisa jadi masalah. Semua tergantung bagaimana Anda menyikapinya. Seseorang yang tersenyum kepada saudaranya, dan senyumannya tidak dibalas oleh saudaranya, tentunya bisa membuatnya merasa kesal, “Ada masalah apa ini, kenapa dia tidak membalas senyumanku?”.

Dan seseorang yang tersenyum, lantas senyumannya dibalas pun bisa berpotensi menjadi masalah yang buruk. Apa pasal? Sebab bisa saja balasan senyuman tersebut bisa menimbulkan perasaan sombong lantaran sedekah senyumnya sudah diterima dengan baik, sesuai harapannya. “Wah, saya memang keren, senyuman saya telah membuatnya terpesona!” Nha lho!

Pada intinya, semua yang ada di hadapan Anda adalah masalah. Tapi mengapa ada orang yang dalam 24 jam tidak pernah stress padahal masalah selalu menghantamnya? Bukankah masalah itu berpotensi membuat seseorang menjadi stress? Ya, tentu saja hal itu berlaku jika orang tersebut tidak mengerti hakikat masalah. Padahal sebenarnya, yang namanya masalah bisa memunculkan dua hal yang saling berlawanan, pertama bisa sebagai MUSIBAH dan kedua bisa sebagai ANUGERAH.

Jika Anda ingin tidak stress dalam menghadapi masalah, YAKINLAH Anda pun bisa melakukannya selama ANDA MAU mencobanya. Anda pun bisa hidup tenang walau setiap hari Anda bercengkrama dengan masalah kehidupan Anda. Hal itu sangat mungkin terjadi ketika Anda berhasil MENIKMATI setiap permasalahan Anda. Anda pun yakin bahwa berbagai masalah hiduplah yang membuat Anda selalu dekat kepada Allah SWT.

Jadikanlah setiap masalah Anda sebagai bagian dari tangga menuju impian Anda. Jadikanlah masalah Anda sebagai anugerah dan hadiah dari Tuhan. Memang hadiah tersebut dibingkis dengan kurang menarik, untuk membuka bingkisan dan melihat isinya saja harus berjuang matia-matian. Tapi percayalah, ada sesuatu yang sangat berharga dibalik bingkisan yang ruwet tersebut.

Nah, agar Anda tidak stress dan selalu bahagia, maka rumusnya adalah : “KERJAKANLAH apa yang Anda cintai, namun kalau Anda belum bisa maksimal melakukannya, maka setidaknya, CINTAILAH apa yang saat ini Anda kerjakan.” Ya, selalulah berpikir positif bahwa Allah selalu memberikan yang terbaik kepada Anda.

Nikmati saja kehidupan Anda. Sebab, sekali lagi, Allah yang paling tahu apa yang paling baik untuk Anda, Allah lah yang paling tahu masalah apa yang “cocok” untuk Anda, dan bersesuaian dengan potensi yang Anda miliki. Yakinlah, akan sangat nikmat ketika Anda memulainya dengan cara berpikir positif, bahwa Allah selalu memberikan yang terbaik untuk Anda.

Alhasil, ketika Anda sudah berhasil menikmati setiap permasalahan harian Anda sebagai seorang insan yang shaleh, terlebih sebagai seorang muslim yang sejati, maka rasakanlah sesuatu yang hadir secara dahsyat dan sungguh nikmat yaitu “Manisnya Iman”. Sebuah rasa yang alang tak kepalang nikmatnya. Anda akan merasa begitu dekat dengan Allah SWT.

Mulai hari ini Anda harus bersiap untuk menyelesaikan dan menuntaskan masalah-masalah yang sifatnya bukan lagi harian. Masalah-masalah yang lebih SPESIAL. Masalah-masalah yang didesain agar Anda semakin dekat dengan Allah SWT. Masalah-masalah yang dihadirkan agar Anda semakin dekat dengan impian-impian Anda. Masalah-masalah yang lebih berakibat kepada “Quantum-nya” diri Anda menuju tempat yang Anda sangat mengharapkannya, yang sebelumnya bahkan, Anda pun tak berani memimpikannya. Maka jangan lari dari masalah-masalah Anda, hadapi dan nikmati saja, sebab jika Anda lari dari masalah-masalah Anda maka sebenarnya Anda sedang lari dari anugerah terindah dalam hidup Anda. Aduhai sayang sekali bukan?

Menunda sebagai akar Frustasi

Tetapi, masalah tetaplah masalah, jangan sampai Anda hanya menikmatinya begitu saja lalu membiarkannya bergerak tanpa nahkoda. Jangan sampai Anda membiarkannya lalu menunda-nunda pekerjaan Anda sehingga menjadi masalah yang menumpuk dan tidak pernah tuntas. Sebenarnya jika Anda menyelesaikan masalah Anda dengan fokus, satu persatu, tahap demi tahap, dan waktu demi waktu, maka insya Allah Anda kan mudah menyelesaikannya.

Tapi jika Anda menumpuk-numpuk masalah, maka hal itu adalah bagian dari usaha negatif Anda sendiri, sehingga wajar jika Anda merasa proporsi masalah yang Anda miliki menjadi tidak berimbang dengan kemampuan Anda dalam menyelesaikannya.

Allah SWT itu Maha Adil, sehingga tidak pernah memberikan masalah kecuali sesuai dengan kemampuan hamba-Nya (Q.S. Al-Baqoroh : 286). Masalah itu biasanya dihadirkan sedikit demi sedikit agar Anda mampu berkembang secara evolutif dan bijak. Imunitas Anda terhadap masalah pun ditempa step by step. Itu sebabnya, kalau masalah sudah menumpuk, jangan pernah sekali-kali menyalahkan Allah atas “ribet”nya masalah Anda, lantaran itu semua Anda sendiri yang menciptakannya, yakni lantaran Anda suka menunda menyelesaikan masalah-masalah Anda.

Allah berfirman dalam Al-Quran surat ke-42 (Asy-Syuura) ayat 30-31, “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu). Dan kamu tidak dapat melepaskan diri (dari azab Allah) di muka bumi, dan kamu tidak memeroleh seorang pelindung dan tidak pula penolong selain Allah.”

Ada pria, pasti ada wanita. Ada penyakit, pasti ada obatnya. Ada masalah, pasti ada solusi. Solusi selalu bergerak menuju penyelesaian masalah. Ingat, walaupun di depan Anda ada Sate Kambing Muda idaman Anda, namun jika Anda hanya diam, maka bisa-bisa sate idaman Anda tersebut dimakan oleh kucing yang sudah mengintainya sejak lama. Artinya, kalau Anda membiarkan masalah Anda beraktualisasi sendiri, maka justru akan menjadi masalah yang membahayakan, dan semakin tidak mudah untuk dihadapi.

Ketika Anda sudah terbiasa menyelesaikan masalah-masalah harian, masalah-masalah yang relatif ringan, sedikit demi sedikit, maka Anda harus bersiap-siap untuk lebih berbahagia. Yakni, berbahagia dengan hadirnya masalah baru yang lebih berkualitas. Ya, Anda akan diberikan masalah yang lebih berkualitas agar hidup Anda pun lebih berkualitas.

Tenang saja sahabatku, alam keyakinan bawah sadar Anda pun sudah tidak masalah lagi dengan adanya masalah baru yang sangat besar. Anda sudah membina pondasi keyakinan Anda dengan begitu kuatnya, sehingga dengan izin-Nya, SELAMA ANDA TIDAK PERNAH MENUNDA APALAGI LARI DARI MASALAH, maka apa pun masalah yang hadir, maka ANDA BERHAK menikmatinya.

Jika masalah harian ibarat nasi dan lauk pauk sederhana, maka masalah yang besar anggap saja sebagai hidangan istimewa: SATE KAMBING MUDA! Memang Panas, tapi: Bergizi, Berkualitas, dan Sedap. Sesekali menyantap sate kambing muda adalah sangat sehat dan menyenangkan, tetapi kalau setiap hari Anda melahapnya, memang dapat membuat tubuh Anda menjadi tambun, gemuk, dan lamban.

Syaitan mana sih yang akan bahagia ketika melihat Anda sukses? Itu sebabnya, para syaitan begitu getol menggoda Anda, terutama di kala Anda menjelang beberapa langkah lagi menuju finish impian Anda. Artinya, semakin Anda mendekati kesuksesan maka syaitan pun semakin getol menggoda Anda. Dan jika Anda tidak waspada maka godaannya akan sukses luar biasa. Sehingga tak heran, dalam buku Succeed is Mine yang ditulis oleh J Morris disinyalir bahwa 90% orang yang gagal adalah orang-orang yang HAMPIR berhasil.

Sebenarnya, syaitanlah yang meniupkan hawa frustasi pada diri Anda ketika Anda hampir sukses. Dan hal tersebut hampir menjadi CIRI KHAS orang-orang yang bakal sukses, yaitu hadirnya rasa frustasi. Perhatikanlah, dalam berbagai proses alami di kehidupan nyata terbukti bahwa timbulnya kondisi yang “kritis” (baca : frustasi -pen), justru sebagai bukti bahwa kekuatan Anda menjadi semakin dahsyat dan keberhasilan Anda menjadi semakin dekat.

Contoh, ketika “Si Ujang” dikejar Anjing GALAK plus rabies, maka kondisi kritis tersebut telah membuat adrenalin si Ujang meningkat, jantungnya berdetak lebih cepat, dan tenaganya menjadi berlipat luar biasa, sehingga tembok 2 meter pun bisa dilompatinya dengan mulus.

Itu sebabnya, mulai saat ini YAKINLAH, ketika frustasi datang menghampiri Anda tatkala Anda sedang berusaha optimal, tanpa menunda-nunda pekerjaan, maka frustasi dan kondisi kritis yang menghampiri Anda tersebut adalah sebagai CIRI bahwa Anda akan segera sukses. Artinya, semakin Anda merasa frustasi berarti Anda semakin dekat dengan Prestasi. Sehingga, tetaplah bergerak, sebab dibalik frustasi terdapat prestasi yang tengah menunggu Anda.

Perhatikan Firman Allah Q.S. Al-Insyiroh : 5-6 : “Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan. Maka sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan.” Nah, Wahai Saudaraku, YAKINLAH mulai saat ini bahwa, semakin sulit suatu permasalahan, maka selama Anda terus bergerak aktif, Anda akan semakin dekat dengan kemudahan. Bukankah semakin lapar perut Anda menandakan bahwa Anda semakin dekat dengan makanan? Bukankah semakin mules perut Anda berarti Anda semakin dekat dengan toilet?

Justru rasa lapar dihadirkan agar Anda merasakan nikmatnya makan. Dan rasa mules pun dihadirkan agar BAB (Buang Air Besar –pen.) Anda menjadi lancar dan nikmat luar biasa. Maaf, menurut Anda apa yang terjadi jika seseorang BAB tapi tidak dihadirkan rasa mules sebelumnya? Tak terbayangkan bukan? Entah kapan keluarnya? Bisa-bisa, di toilet Anda melamun, atau malah mengarang puisi, dengan judul : “Akhir sebuah penantian”. Oh, betapa sedihnya orang-orang yang tidak pernah mules. Itu sebabnya, nikmati saja rasa frustasi yang kini Anda rasakan, tentunya seraya TERUS BERGERAK menuju puncak impian, sebab sebentar lagi, insya Allah FRUSTASI Anda akan berganti menjadi PRESTASI. Amien wal hamdulillah.
Be spirit, together we grow.

by Joe – Admin SIAP Online Hikmatul Fadhillah
from Kang Zain / Senior Trainer PT ABCo Sugesti Motivatindo

Komentar Anda?

  1. January 26, 2012 at 3:37 pm

    saya jadi teringat sama bapak Jansen Sinamo :(

  2. January 31, 2012 at 9:02 am

    always…keep spirit…together we grow. thanks.

Komentar Anda?